Sebuah kisah cerita dari pengusaha anak muda

belajar bisnis online bersama koombis.com

Sebuah kisah cerita dari pengusaha anak muda

Tahun 1990-an akhir di Australia.

Seorang anak muda sedang penuh semangatnya belajar sebuah sekolah di Australia. Sekolah itu setingkat SMP di Indonesia. Ia bersekolah di sana karena ingin mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas, sekaligus menghindari pengaruh negatif yang saat itu banyak terjadi di Indonesia. Selain mendapatkan biaya dari orangtuanya, anak muda itu juga bertekad membiaya hidupnya sendiri, tekad itu amat bulat sehingga sambil sekolah, dia mulai berbisnis. Padahal usianya saat itu masih sangat muda, 13 tahun. Tentu tekad membiayai diri sendiri tidak datang begitu saja. Sejak usia 7 tahun anak muda ini sudah di ajari oleh ibunya bagaimana berbisnis, meski tidak secara langsung. Misalnya, sang ibu mengajak anaknya untuk melihat proses bagaimana mengelola bisnis di sebuah perusahaan. Di sana ibunya memperlihatkan bagaimana mengelola bisnis dan menghitung uang. Sang anak juga sering melihat proses negoisasi dan deal bisnis antara ibunya dengan pihak lain. Pengalaman tersebut sangat membekas di benak sang aak, sehingga ketika bersekolah di Australia, naluri bisnisnya sudah menyala.

Kegiatan mencari uang pertama yang dilakoninyalah menjadi salesman door to door. Kegiatan ini bukan hal yang mudah, untuk anak usia belasan tahun. Dia belum faish berbahasa inggrs, tidak banyakmengeal kerabat atau teman plus olok-olok dari teman-teman sekolahnya. Belum lagi berbagai penolakan dari calon konsumen yang selalu terjadi setiap waktu. Lengkaplah perjuangan beratnya saat itu. Namun, karena sudah memiliki tekad kuat, semua rintangan itu dihadapinya dan dilewatinya.

Pada usia 16 tahun, anak tersebut tumbuh makin dewasa di tenga-tengah anak seusianya yang lebih banyak bermain dan hura-hura. Setelah kenya dengan pengalaman sebagai salesman door to door, ia memberanikan diri menjadi pebisnis tulen. Caranya dengan menjadi penyalur barang-barang kerajinan dari Bali. Handicraft buatan Bali lumayan diminati di Australia. Sudah tervayang, betapa besar keuntungan yang diperolehnya. Memang benar tingkat penjualan barang yang disalurkannya meningkat pesat dari waktu ke waktu. Omzetnya sangat memusakan. Angka-angka yang teratat bahwa bisnisnya sangat menggirukan.

Namun pada setiap akhir bulan, keunungannya tidak sebanding dengan tingkat penjualannya (omzet). Dia memperoleh keuntungan samat sedikit dibanding jumlah omzet yang diperoleh. Bahkan pada satu titik, bisnisnya merugii. Omzet tetap tinggi tapi merugi dan kemudian bangkrut. Sangat menyesakkan pasti ada yang salah dengan bisnisnya. Di situlah sanak muda itu sadar, bahwa bisnis bukan hanya tentang omzet.