Sebuah karakter menentukan kesuksesan anda

belajar bisnis online bersama koombis.com

Sebuah karakter menentukan kesuksesan anda

Bahwa faktor vital dan dominan yang menentukan kualitas hidup seseorang maupun bisnis adalah masalah sikap mental dan karakter manusia. Dalam skala mikro, itu menunjuk kepada karakter perseorangan, yang jika dalam bisnis berarti adalah para pemain bisnisnya (karyawan dan pengusaha), dan dalam skala makro adalah karakter masyarakat atau bangsa.

Sekalipun dipercayai oleh banyak orang bahwa karakter individu ataupun suatu bangsa ditentukan oleh ‘langit’ atau nasib, sehingga kita tidak bisa memilih dan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kondisi yang predetermined (given) seperti itu, namun kalau kita berani introspeksi dan menelaah esensi, maka akan kita temukan bahwa bukan itu masalahnya. Nasib hanyalah ‘kambing hitam’ atau bahkan ‘berhala’ yang diciptakan oleh orang untuk mentolerir ketidakmampuan dan ketidakmauannya untuk mengubah kualitas kehidupannya dengan perjuangan dan pengorbanan. Dengan me- lontarkan alasan ‘nasib’ maka ia/mereka bisa merasa tenang dan tanpa perasaan bersalah menjalani kehidupan yang ala kadarnya, jauh dari berkualitas, apalagi berguna.

Banyak orang hidup seperti layaknya tumbuh-tumbuhan atau (maaf) hewan. Mereka lahir, dibesarkan, bersekolah, bekerja, me- nikah, beranak, bercucu, tua, dan mati. Semua itu berjalan secara otomatis dan naluriah, tanpa banyak menggunakan pemikiran, apalagi strategi. Jika mampu bersekolah, bagus, karena anak lain pun bersekolah. Jika tidak mampu bersekolah, ya sudah, karena anak lain pun tidak bersekolah. Mereka tidak tahu untuk apa bersekolah, sehingga tidak belajar dan diajar secara serius agar menjadi pelajar berprestasi di sekolahnya. Bagi mereka, yang penting bersekolah. Jika diperlukan tawuran pada waktu bersekolah, ya ikut meramaikan. Jika di-drop-out karena kenakalannya atau kebodohannya, ya sudah.

Jika mampu bekerja, bagus, karena orang lain pun bekerja. Jika tidak mendapat pekerjaan, ya sudah, orang lain pun banyak yang menganggur. Jika bisa menikah bagus, karena orang lain pun menikah, demikian seterusnya, sampai ajal menjemput. Dan karena alasan itu dipercayai dan diterapkan oleh banyak orang, maka hal itu telah menjadi mitos dan budaya, yang dalam skala makro dinamakan budaya bangsa.