10 Karasteristik Genius Marketing bag 2

genius kommbis.com

10 Karasteristik Genius Marketing bag 2

3. Pemikiran Analisis. Seorang genisu akan bekerja memcahkan maslaah atau mencari ide secara teratur atau perlahan-lahan, hati-hati atau menyeluruh dan juga secara kreatif, menantang logika matemtais atau sains. Sementara seorang geniusmencapai tingkatan atau dimensi baru melalui langkah-langkah kreatif, masih ada kebutuhan untuk mengerti dan menerapkannya agar tidak menjadi omong kosong belaka. Sering kali hal ini memerlukan mental logis yang murni karena formula matematis atau prinsip-prinsip sains yang sekarang mungkin berasal atau berdasarkan dari asumsi-asumsi yang salah. Terobosan-terobosan jarang tercapai dari sumber prinsip atau aturan, tetapi tetap diperlukan bukti dari sebuah konsep yang baru

4. Pemikrian Observatif. Seorang genius mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi, kepekaan yang tinggi atas hal-hal apa saja yang sedang terjadi, dan mencari pola-pola seperti layaknya seorang ahli forensik atau detektif. Beberapa kesimpulan terbaik berasal dari observasi daripada dari enquiry, seperti seorang ahli antropologi yang mengamati dan memikirkan apa yang sedang terjadi khsusunya hal ini berguna apabila tidak ada lagi bahasa atau logika untuk memperjelaskan suatu perilaku atau penomena. Alexander Fleming menemukan mould pada kultur medisnya, sama seperti dokter-dokter lainnya. Dari pada hanya membuangnya begitu saja, ia memikirkan apa yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi sebuah observasi yang bersumber dari suatu keingintahuan yang akhirnya menghasilkan penicilin.

genius kommbis.com

5. Pemikiran Ganda. Seorang genius dapat berpikir secara paralel menoleransi kerancuna, menyatukan hal-hal yang berlawanan dan menghubungkan hal-hal yang tidak saling terhung sebelumnya. Solusi baru seing kali penuh dengan kontrakdiksi, entah dengan aturan yang ada, atau didalamnya sendiri. Tentu saja, definisi Scott Fitzgerald tentang apa yang dapat membuat pemikiran yang unggul adalah kemampuan untuk memegang dua ide ang saling bertentangan pada saat yang bersamaan. Niels Bohr, ahli fisika danish, membayangkan  bagaimana cahaya dapat dilihat baik sebagai partikel maupun gelombang. Ini kedengarannya sangat kontradiktif. Namun penemuan akan phonons ini partikel uang tidak terlihat bertingkah laku seperti gelombang, membawanya pada teori complementary. Sama dengan leonardo da vinci yang mengkombinasikan suara bel dengan gerjelombang yang terjadi pada saat batu jatuh ke dalam air, membawanya pada kesimpulan bahwa suara menjelajah sebagai gelombang.